Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan masih mendalami dugaan penipuan di PT Investee Radhika Jaya (Investree). Regulator masih mendalami dugaan penipuan di penyedia layanan fintech peer-to-peer (P2P) lending tersebut. 

Kepala Eksekutif Pengelola Lembaga Keuangan, Perusahaan Modal Penanaman Modal, Lembaga Keuangan Kecil, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan, pihaknya akan memastikan kasus tersebut ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. 

Termasuk koordinasi dengan aparat penegak hukum, kata Agusman dalam tanggapan tertulisnya, dikutip Selasa (9/7/2024).

Di sisi lain, Investree masih bertahan. Rasio kredit bermasalah Investree yang ditunjukkan oleh rasio pembayaran 90 hari (TWP90) adalah sebesar 16,44% per 9 Juli 2024. Angka tersebut meningkat dibandingkan 12,58% pada 12 Januari 2024. Hal ini menunjukkan tingkat leverage yang tinggi. mengenai penyelesaian kewajiban terhadap kreditur, dimana ambang batas dari OJK tidak melebihi 5%. 

Tak hanya itu, Agusman mengatakan Investree belum mengeluarkan laporan pelaksanaan suntikan modal dan berencana menyelesaikan permasalahan gagal bayar tersebut. Investree belum memenuhi persyaratan minimum ekuitas. Pada kasus sebelumnya, Investree mengindikasikan akan segera menerima suntikan dana dari JTA Holdings.  

Salah satu pendiri dan Direktur Investree Singapore Pte. Ltd. Kok Chuan Lim selaku perwakilan Investree mengungkapkan proses investasi telah dimulai.  “Kami mempunyai proyek yang pencairan dana dari JTA Holding akan segera diselesaikan dan kami sedang dalam proses pengecekan prosedur studi kelayakan rencana JV [joint venture] tersebut,” kata Lim dalam keterangan resminya pada Mei lalu. 2024. 

Lim menjelaskan, persiapan penggalangan dana dari perusahaan JTA Holding ke Investree telah dipersiapkan sejak lama, salah satunya pada tahun 2023 ketika kedua pihak sepakat untuk membuat JV bernama JTA Investree Consultancy yang berbasis di Doha, Qatar. Lim mengatakan Investree dan JTA terus melanjutkan komitmen dan niat baik mereka dalam menyelesaikan seluruh prosedur yang diperlukan untuk menyelesaikan donasi. 

“Dalam proses itu, banyak langkah yang harus kita lalui untuk memastikan aspek hukum dan kepatuhan terpenuhi,” ujarnya. 

Lim juga membenarkan proses pemulihan bisnis perusahaan sedang berjalan. Upaya perbaikan dilakukan melalui beberapa cara, salah satunya dengan melakukan reformasi manajemen internal, efisiensi biaya operasional, membuka kembali layanan layanan pelanggan, dan memulihkan pengumpulan pendapatan (collection). 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News dan WA Channel