Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah memperkirakan anggaran negara mencapai Rp3.412,2 triliun pada akhir tahun 2024.

Pagu anggaran tersebut bertambah Rp81 triliun dibandingkan pagu semula sebesar Rp3.325,1 triliun pada APBN 2024.

“Kami memperkirakan belanja pemerintah akan terus tumbuh sebesar 9,3% pada akhir tahun, dan memang belanjanya tumbuh,” kata Menteri Keuangan Sri Muliani usai rapat dengan Badan Anggaran, Senin (07/08/2024).

Sri Muljani mengatakan peningkatan alokasi anggaran pemerintah hingga akhir tahun terutama disebabkan oleh peningkatan belanja pemerintah sebesar Rp90,7 triliun dari awal Rp2.467,5 triliun menjadi Rp2.558,2 triliun.

Lebih spesifiknya, alokasi belanja kementerian dan lembaga (K/L) meningkat sebesar Rp108,0 triliun dari Rp1.090,8 triliun menjadi Rp1.198,8 triliun.

Pertumbuhan tersebut antara lain dipengaruhi oleh percepatan pembiayaan luar negeri atau dalam negeri sebesar Rp105,9 triliun dan tambahan belanja berdasarkan penerimaan hibah sebesar Rp32,3 triliun, termasuk penyelenggaraan pilkada.

Selain itu, pemerintah menambah alokasi subsidi beras tiga bulan pada Agustus, Oktober, dan Desember sebesar Rp11,0 triliun, serta tambahan subsidi pupuk sebesar Rp24 triliun dan Kewajiban Pajak Negara (DTP) peternakan dan apartemen sebesar Rp0,5 triliun. .

Kemudian kombinasi itu menjadi sejumlah percepatan proyek-proyek yang ingin diselesaikan, serta realisasi K/L pinjaman luar negeri,” jelas Sri Muljani.

Di sisi lain, belanja non-K/L diperkirakan sebesar Rp17,3 triliun dari Rp1.376,7 triliun menjadi Rp1.359,4 triliun pada akhir tahun.

Selain itu, realisasi transfer wilayah (TKD) pada akhir tahun 2024 diperkirakan sebesar Rp3,6 triliun atau Rp854 triliun dibandingkan rencana awal sebesar Rp857,6 triliun.

Dengan penerapan peningkatan belanja tersebut, pemerintah memperkirakan defisit APBN akan meningkat menjadi 2,7% pada akhir tahun 2024 dari target APBN 2024 sebesar 2,29%.

Meski belanja meningkat, pendapatan pemerintah diperkirakan hanya mencapai Rp 2.802,5 triliun pada akhir tahun 2024, meningkat hanya Rp 200 miliar dari target semula.

Selain itu, untuk menutup defisit, pemerintah berencana menambah penggunaan anggaran surplus (SAL) sebesar Rp100 triliun untuk mengurangi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), termasuk memenuhi kewajiban pemerintah.

Lihat berita dan artikel lainnya di Google Berita dan saluran VA